Wednesday, January 18, 2017

"Makanan Alami"?

#

Beberapa tahun belakangan, banyak penjual ‘makanan alami’ muncul. Mereka menawarkan berbagai makanan dalam jumlah terbatas namun beberapa diketahui telah ditambahkan bahan kimia ke dalamnya.
Beberapa makanan diberi label ‘organik’ yang berarti tidak ada bahan kimia dipergunakan dalam produknya. Dengan demikian, buah dan sayuran dalam produk tersebut ditumbuhkan dalam tanah yang hanya diberi ‘pupuk alami’. Tidak ada pestisida yang dipergunakan untuk membasmi serangga dan perusak tanaman, yang mungkin bisa termakan dalam produk.
Susu diambil dari sapi yang hanya boleh memakan rumput. Tidak ada antibiotik yang diberikan pada sapi, dan tanah pun tidak diberi bahan kimia, serta susu itu sendiri tidak diolah (misalnya dihomogenisasi). Jika menjual daging, toko ‘makanan alami’ hanya memiliki daging dari hewan yang diberi makan jerami yang tak diolah, atau hewan tersebut hanya makan rumput.
Makanan alami tentu saja penuh dengan bahan kimia, tetapi bahan-bahan kimia tersebut semuanya disintesis secara alami oleh organisme. Susu sapi mengandung lebih dari 100 macam bahan kimia. Bawang Bombay melepaskan zat-zat kimia organik ketika dikupas, yakni metil alkohol (CH3OH), propil merkaptan (C3H7SH), asetaldehid (CH3CHO), propil alkohol (C3H7OH), dan senyawa-senyawa organik lain. Wortel, tomat, kulit pisang, persik, dan buah-buahan lain mendapatkan warna mereka dari sekelompok pigmen yang disebut sebagai karetenoid.
Klorofil adalah pigmen yang membuat warna hijau pada buncis, kacang hijau, maupun bayam. Banyak pigmen lain yang memberikan warna bagi makanan. Selain itu, aroma yang muncul dari kopi wangi merupakan hasil campuran setidaknya 40 macam zat kimia. Meskipun zat-zat kimia tersebut memberikan rasa enak serta warna dan aroma yang menarik pada makanan alami, beberapa di antaranya dapat bersifat racun meskipun sangat jarang ditemukan. Misalnya, suatu jamur dapat tumbuh pada produk kacang, gandum, maupun gandum hitam. Jamur yang dimaksud dikenal sebagai jamur aflatoxin. Telah terjadi peristiwa-peristiwa kematian hewan yang memakan gandum atau kacang yang terkontaminasi oleh jamur tersebut. Selain itu, kacang berjamur juga dapat menyebabkan kanker.
Jenis jamur lainnya yang dapat tumbuh pada gandum hitam dan padi-padian lain dapat menghasilkan zat yang disebut ergot. Ergot mengandung sejumlah bahan kimia yang berkaitan dengan asam lisergat. Ergot dapat menyebabkan penyakit yang disebut ergotism yang ditandai dengan kejang-kejang. Ada kemungkinan bahwa orang yang memakan gandum hitam yang terkontaminasi jamur jenis ini akan menunjukkan tanda-tanda yang mirip dengan yang disebabkan oleh LSD.
Beberapa makanan secara alami memproduksi sejumlah kecil bahan kimia yang dalam jumlah besar bisa berbahaya. Contohnya, sejumlah sayur-sayuran menghasilkan hidrogen sianida. Jadi, meskipun memakan makanan yang tidak terkontaminasi, seseorang bisa saja memakan setumpuk besar makanan sehingga teracuni oleh zat kimia yang terkandung di dalamnya. Hal seperti itu jarang terjadi, justru sebenarnya zat-zat kimia tersebut dibutuhkan oleh tubuh kita dalam jumlah tertentu.
Dalam masyarakat industri seperti sekarang ini, hampir tak mungkin manusia memakan makanan alami meskipun mereka menginginkannya. Makanan alami tidak tersedia cukup banyak untuk memberi makan seluruh penduduk. Kebutuhan akan berbagai jenis makanan yang dapat disimpan dalam waktu lama, dipenuhi dengan pemakaian zat aditif kimia. 

0 comments:

Post a Comment