Friday, January 20, 2017

Bahan Pewarna Makanan

#
Kita biasa memperhatikan warna makanan yang akan kita makan, karena kita tidak ingin ada warna lain dari makanan tersebut. Seringkali warna makanan alami tidak menarik atau memang makanan tersebut tidak berwarna.
Dalam usaha membuat makanan lebih menarik untuk dijual pada konsumen, para pembuatnya mungkin saja menambahkan pewarna makanan pada produknya. Warna dari makanan dapat terjadi secara alami atau dapat juga ditambahkan pewarna buatan.
Terdapat banyak pigmen alami, misalnya klorofil yang memberikan warna hijau pada selada dan kacang polong, karoten yang memberi warna jingga pada wortel dan jagung, lycopene memberi warna merah pada tomat dan semangka, serta oksimioglobin yang memberi warna merah pada daging. Semua pigmen alami ini dapat berubah karena bereaksi dengan oksigen yang terjadi selama proses pematangan buah dan daging.
Panas yang berlebihan, bahkan proses mencincang dan menggiling makanan, juga mengubah warna alami makanan dengan merusak sel dan membocorkan pigmen keluar sehingga bereaksi dengan molekul O2. Salah satu metoda mewarnai makanan secara buatan adalah menambahkan pewarna sayur-sayuran.
Pewarna alami antara lain karamel, bit hasil dehidrasi, minyak wortel, karoten, paprika, kunyit, serta riboflavin. Kebanyakan pewarna ini diekstrak dari bunga atau daun tumbuh-tumbuhan. Kelompok pewarna terbesar adalah zat organik sintetik, yakni sekitar 90% dari seluruh pewarna yang dipakai dalam makanan.
Pada tahun 1856 diproduksi pewarna buatan pertama, dan sejak saat itu beberapa ribu pewarna telah dibuat dalam laboratorium. Meskipun banyak sekali pewarna yang dipakai dalam tekstil, cat, dan produk lain, namun hanya sedikit saja yang diizinkan untuk dipakai dalam makanan.
Hampir semua warna dihasilkan dari zat kimia yang ditemukan dalam minyak. Zat-zat kimia berwarna ditambahkan pada soda, keju, mentega, margarin, es krim, campuran bolu, sereal, permen, sosis, dan ratusan produk lain.
Zat kimia yang ditambahkan memiliki kekuatan pewarnaan, warna yang seragam, dan stabilitas yang membuat makanan lebih menarik. Selain itu, ketertarikan konsumen pada kehadiran warna tersebut membuat konsumen membeli lebih banyak lagi, misalnya karena warna yang ditambahkan pada soda membuat minuman tersebut tampak lebih kaya akan rasa buah. Kapanpun pewarna ditambahkan pada produk makanan, dalam label harus dicantumkan apakah produk tersebut menggunakan pewarna buatan yang diizinkan, atau pewarna yang berasal dari sayuran dan warna alami.
Penggunaan pewarna dalam makanan diatur untuk menjaga keamanan zat kimia yang dipakai atau mencegah penipuan konsumen, dan pewarna dicantumkan pada label. Dahulu, sejumlah pewarna pada makanan, obat, dan kosmetik sangat tidak aman.
Pada abad ke-19, permen bisa diwarnai oleh pigmen dari timbal, arsen, tembaga, dan kromium, yang mengakibatkan sakit dan bahkan kematian orang yang makanannya dalam jumlah besar. Tahun 1950-an ditemukan bahwa beberapa zat kimia pewarna makanan yang telah diizinkan ternyata beracun, kemudian semua pewarna yang diizinkan untuk makanan, obat, dan kosmetik, diuji kembali untuk melihat apakah ada efek negatif. Selanjutnya, tidak ada lagi pewarna yang boleh dipakai bila ditujukan untuk menutupi noda atau cacat, menyembunyikan kekurangan, atau menipu konsumen.
Misalnya kunyit, yang dahulu digunakan untuk memberi warna telur pada kue, tak dapat lagi dipakai sebagai zat pewarna untuk tujuan penjualan yakni membuat pembeli mengira produk tersebut kaya akan telur. Selama bertahun-tahun, pengujian zat-zat kimia pewarna menghasilkan penemuan sejumlah zat beracun. Sejak saat itu, warna hitam karbon (carbon black) dan beberapa pewarna lain tidak lagi diizinkan untuk makanan.

Beberapa pewarna makanan buatan yang diizinkan



0 comments:

Post a Comment