Monday, January 16, 2017

Sehat dan panjang umur, mengubah pola makan

#

Sejak lebih kurang 60 tahun lalu, para ahli telah mengetahui bahwa pengurangan konsumsi energi dapat memperpanjang umur. Metode ini juga menurunkan risiko terkena penyakit yang lazim terjadi saat usia lanjut pada hewan percobaan. Ada monyet, misalnya, pengurangan konsumsi energi-menjadi dua pertiga dari jumlah konsumsi normal-dapat memperpanjang masa hidupnya menjadi 40 persen lebih tinggi daripada masa hidup monyet yang diberi pakan dengan kandungan energi normal.  Akan tetapi, para ahli membutuhkan waktu puluhan tahun untuk memahami pengaruh pengurangan konsumsi energi pada proses penuaan. Dengan diketahuinya pengaruh pengurangan konsumsi energi pada proses penuaan, para ahli yakin bahwa cara ini dapat diterapkan pada manusia.
Pangan yang dikonsumsi berperan menjalankan proses metabolisme dan menjaga suhu tubuh. Mengurangi konsumsi energi berarti menurunkan suhu tubuh dan pada gilirannya memperlambat proses metabolisme. Para ilmuwan kemudian berpikir bahwa laju metabolisme yang lebih lambat dapat menghambat pembentukan radikal bebas perusak sel, yang merupakan produk samping dari proses metabolisme.
Mengurangi konsumsi energi juga dapat mengembalikan kemampuan sel untuk menggandakan diri, yang menjamin suplai sel baru yang sehat. Akhirnya, pengurangan konsumsi energi memperkecil penurunan hormon pertumbuhan (key growth hormone) yang berkaitan dengan bertambahnya usia berupa dehidroepiandrosteron (DHEA).  DHEA adalah hormon yang membantu memperbaiki sistem kekebalan tubuh untuk berfungsi seperti sistem kekebalan pada waktu muda. Hormon ini berperan dalam enunda munculnya penyakit-penyakit yang berkaitan dengan bertambahnya usia (age-related diseases).
Para peneliti di the National Institute of Aging, US Department of Health and Human Services mempublikasikan hasil penelitian mereka yang berjudul "Biomarkers of Caloric Restriction May Predict Longevity in Humans" pada jurnal ilmiah Science edisi Agustus 2002. Pada penelitian "the Baltimore Longitudinal Study of Aging ini", Roth dan koleganya, membandingkan lebih dari 700 pria sehat yang berumur 19-95 tahun dengan 60 monyet yang berumur 5-25 tahun.
Para pria dikelompokkan menjadi dua kelompok. Kelompok pertama adalah mereka yang memiliki nilai penanda biologi-berupa suhu tubuh, kadar insulin darah, dan kadar dehidroepiandrosteron sulfat (DHEAS)-masing-masing di atas nilai tengah.  Kelompok kedua adalah mereka yang nilai penanda biologinya di bawah nilai tengah. Monyet percobaan juga dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok yang diberi makan secara bebas (500-1.000 kkal/hari) dan kelompok yang dibatasi konsumsi energinya (30 persen lebih rendah daripada konsumsi energi pada kelompok pertama).
Roth dan kawan-kawan menemukan bahwa mereka yang memiliki suhu tubuh yang lebih rendah, kadar insulin darah yang lebih rendah, dan kadar DHEAS yang lebih tinggi, cenderung hidup lebih lama.  Hal yang sama juga ditemukan pada monyet yang menjalani pengurangan konsumsi energi. Roth dan kawan-kawan menyimpulkan bahwa pengurangan konsumsi energi menyebabkan pergeseran metabolik yang dapat memengaruhi laju penuaan.
Hal yang menarik dari temuan ini-karena pria yang berpartisipasi dalam penelitian ini tidak menjalani pengurangan konsumsi energi-adalah kemungkinan adanya cara lain untuk mencapai nilai penanda biologi pada tingkat yang tepat, untuk dapat memperpanjang umur tanpa harus mengurangi konsumsi makanan secara drastis.
Pendekatan lain itu adalah memilih jenis pangan sumber energi dengan tepat merupakan upaya yang tepat untuk menjaga kadar insulin darah pada tingkat tepat. Konsep indeks glikemik-memilih pangan yang menaikkan kadar gula darah dengan lambat-dapat diterapkan untuk menjaga kadar insulin dalam darah berada pada taraf normal (tidak tinggi).
Walaupun Roth dan kawan-kawan tidak dapat memastikan bahwa kondisi penanda biologi berupa suhu tubuh, kadar insulin darah yang rendah, serta kadar DHEAS dalam darah yang tinggi disebabkan oleh pengurangan konsumsi energi, masyarakat dianjurkan untuk membatasi konsumsi energi dari pangan yang meningkatkan kadar gula darah dengan cepat (misalnya kentang) dan dari pangan berlemak (misalnya daging).
Mengurangi konsumsi energi secara tidak langsung juga berarti menyeimbangkan pola makan dengan cara mengganti kekurangan konsumsi pangan sumber energi dengan pangan sumber vitamin dan mineral. Oleh karena itu, makan dua pertiga kenyang bukan hanya lebih hemat tetapi juga lebih "menyehatkan".

0 comments:

Post a Comment