Wednesday, January 25, 2017

Bahan Makanan Yang Diperkaya Zat Gizinya

#
Telah diketahui bahwa manusia memerlukan setidaknya 50 zat gizi yang mencukupi keperluan kesehatan. Semua zat gizi yang dibutuhkan ini terdapat di alam atau bisa disintesis dalam tubuh dari zat-zat kimia yang ada dalam makanan. Namun banyak orang di dunia yang tidak bisa mendapatkan makanan yang layak dan menderita berbagai penyakit yang disebabkan kekurangan gizi.
Makanan yang dikonsumsi penderita kurang gizi bisa saja kekurangan protein, karbohidrat, lemak, vitamin, atau mineral. Selama bertahun-tahun para ahli kimia dan peneliti telah menentukan zat-zat gizi tertentu yang dibutuhkan untuk mencegah beberapa penyakit.
Penelitian terus berlanjut untuk menemukan hubungan antara zat gizi dengan pencegahan penyakit, misalnya yodium mencegah gondok, zat besi mengurangi anemia, protein mencegah kwashiorkor, dan vitamin C mencegah sariawan. Kemudian disadari bahwa berbagai zat gizi bisa ditambahkan pada makanan, dan banyak zat gizi yang ditambahkan tersebut disintesis dalam pabrik kimia. Ketika zat aditif ditambahkan pada makanan dengan tujuan meningkatkan nilai gizi, maka makanan tersebut telah ‘diperkaya’ (fortified).
Fortifikasi makanan adalah proses penambahan zat gizi ke dalam makanan, zat gizi yang ditambahkan biasanya merupakan vitamin dan asam amino.
Vitamin adalah komponen makan pertama yang diproduksi secara sintetik, yang kemudian di tahun 1930-an nilainya sebagai zat aditif makanan potensial telah dibuktikan. Pada tahun 1939 direncanakan penambahan vitamin tiamin (B1) yang dapat mencegah beri-beri ke dalam tepung, dan hal ini dilakukan di Inggris selama Perang Dunia II, yang merupakan salah satu fortifikasi makanan pertama yang dilakukan. Pada tahun 1950-an, penambahan vitamin pada makanan telah tersebar luas, bahkan beberapa vitamin ditambahkan pada makanan dalam jumlah besar (terutama dalam makanan bayi) sehingga menyebabkan efek tak diinginkan seperti kehilangan nafsu makan atau muntah-muntah. Karena efek negatif tersebut, dilakukan pembatasan jumlah vitamin tertentu yang dapat ditambahkan pada makanan.
Selain vitamin, asam amino juga dapat disintesis dalam laboratorium. Seperti diketahui, protein merupakan polimer kondesasi dari asam-asam amino. Terdapat sekitar 20 asam amino yang seluruhnya diperlukan dalam tubuh manusia. Sebagian besar asam amino dapat diperoleh dari protein yang ada secara alami dalam makanan seperti daging, ikan, susu, telur, buncis, serta sereal. Dimulai dengan mengunyah makanan, proses pencernaan terus berlanjut ketika makanan masuk ke dalam lambung di mana enzim pencernaan mengurai polimer protein menjadi asam amino.
Darah mengangkut asam amino menuju sel di mana terjadi sintesis kembali asam amino menjadi ribuan protein yang dibutuhkan oleh tubuh. Dari 20 asam amino, 10 di antaranya harus diperoleh dari makanan dalam bentuk protein, sementara 10 sisanya bisa disintesis dalam tubuh yang berasal dari asam amino lain yang ada dalam protein.
Asam-asam amino yang tak dapat disintesis dan harus diperoleh dari makanan disebut ‘asam amino esensial’, yang bila bukan merupakan bagian dari protein yang dimakan manusia maka tidak akan pernah dapat diperoleh. Asam amino esensial bisa disintesis dalam pabrik kimia dan kemudian ditambahkan pada makanan. Tidak ada perbedaan kimiawi antara asam amino esensial yang terdapat dalam protein makanan dengan asam amino yang sama yang dibuat dalam pabrik kimia. Penambahan asam amino sintetik pada makanan membuat makanan tersebut kaya akan protein, mirip seperti daging.
Tepung terigu yang akan dikapalkan ke negara berkembang telah ditambahkan asam amino lisin. Makanan hewan juga bisa ditambahkan vitamin dan asam amino.
Asam amino sintetik yang digunakan dalam makanan telah banyak meningkatkan nilai gizi makanan tersebut, baik makanan untuk manusia maupun makanan hewan.

0 comments:

Post a Comment