kampus online

Kimia Bahan Makanan

Pengertian dan Sejarah Singkat.

Garam Beryodium

Natrium klorida, juga dikenal dengan garam dapur, atau halit, adalah ...

Bahan Penambah Rasa Buatan

Dengan menggunakan metoda analisis yang paling modern, para ahli kimia telah...

Antioksidan Melindungi Minyak dan Lemak

Lemak dan minyak bereaksi dengan oksigen, yakni molekul O2 menyerang ikatan rangkap yang...

Penambah Rasa Monosodium Glutamat (MSG)

Penting untuk diperhatikan, bahwa monosodium glutamat (MSG) bukanlah zat perasa, tetapi...

Monday, January 23, 2017

Bahan Anti Penggumpalan Makanan

#
Zat kimia anti penggumpalan ditambahkan pada makanan sehingga makanan dapat ditaburkan atau dituangkan dengan bebas. Seringkali bahan makanan sulit dituangkan karena makanan tersebut menyerap kelembaban. Untuk mencegah masalah ini, dapat ditambahkan zat kimia seperti tepung jagung ataupun kalsium fosfat (Ca3[PO4]2) sehingga air lebih dahulu terserap oleh zat kimia tersebut dan tidak terserap oleh makanan.
Beberapa garam meja telah ditambahkan zat anti-gumpal natrium siliko aluminat ke dalamnya, yang membantu agar garam dapat ditaburkan dengan bebas. Garam meja yang umum yaitu NaCl mengandung sedikit magnesium klorida (MgCl2) yang bersifat higroskopik, yakni menyerap dan menyimpan kelembaban dari atmosfir. Pada hari yang lembab, ketika MgCl2 menyerap titik-titik air, sebagian dari garam larut dalam air tersebut, dan saat air menguap maka garam menggumpal dan sulit ditaburkan. Untuk mengatasi penggumpalan garam tersebut, bisa dilakukan penghilangan MgCl2 dari garam atau dengan ditambahkan zat anti-gumpal.

Sunday, January 22, 2017

Bahan Pemadat Makanan

#
Sejumlah besar buah-buahan dan sayuran diolah dalam industri pengalengan. Sebelum dikalengkan, biasanya dilakukan pemanasan yang bertujuan menginaktivasi enzim yang dapat mendekomposisi makanan tersebut. Selama proses pemanasan ini buah-buahan dan sayuran cenderung melembek, yang dicegah dengan menambahkan sedikit kalsium klorida sebelum makanan dimasak dan dikalengkan. Kalsium klorida bereaksi dengan pektin dalam buah dan sayuran sehingga membentuk zat mirip agar-agar jeli. Pektin merupakan karbohidrat yang larut dalam air, reaksinya membentuk bahan mirip jeli menjadikan pektin sebagai bahan pembuat jeli buah.
Zat mirip agar-agar yang disebut gel tidaklah mudah mengalir, sehingga makanan tetap kaku selama pemasakan dan sesudahnya. Selain kalsium klorida, zat pemadat lain yang tidak begitu banyak digunakan adalah kalsium sitrat serta kalsium glukonat.

Bahan Pengemulsi Makanan

#
Dua macam zat cair yang dicampurkan dapat saling melarut dan membentuk suatu larutan zat cair yang homogen; atau sebaliknya, yakni kedua zat cair yang dicampurkan bisa tidak tercampur sama sekali (tidak saling larut). Makanan seringkali mengandung dua macam zat cair atau lebih seperti air dan berbagai minyak, misalnya margarin atau minyak kacang tanah dalam selai kacang.
Dalam berbagai produk makanan, minyak tidak saling larut dengan air sehingga minyak terpisah dan membentuk lapisan dua macam zat cair (misalnya pada saus salad komersial). Untuk mencegah terpisahnya minyak dan air menjadi dua lapisan, zat kimia yang dikenal sebagai ‘pengemulsi’ ditambahkan pada makanan. Pengemulsi merupakan suatu zat kimia yang dapat menyebabkan terjadinya suspensi satu zat cair di dalam zat cair lain. Penambahan pengemulsi menyebabkan tetesan minyak dapat tersuspensi dalam air sehingga minyak dan air tidak mudah terpisah. Akan tetapi bila produk makanan dibiarkan begitu saja dalam waktu cukup lama, pada akhirnya minyak akan terpisah dan membentuk lapisan.
Di alam, emulsi sangat penting dalam berbagai proses sel. Zat pengemulsi pertama yang ditemukan merupakan ekstrak dari bahan makanan alami. Pengemulsi bernama lesitin adalah salah satu kelompok pengemulsi alami yang terbaik, yang ditemukan pada kuning telur, susu, serta darah. Molekul lesitin memiliki gugus PO43- dan merupakan anggota kelompok senyawa yang disebut fosfolipid.



Secara struktural, lesitin sama seperti lemak, tetapi penting diperhatikan bahwa molekul lesitin memiliki ujung polar maupun ujung non polar. Ketika ditempatkan dalam lingkungan minyak air, ujung polar menempel pada kutub-kutub air sedangkan ujung non polar menempel pada tetesan lemak atau minyak, sehingga hasilnya tetesan minyak tidak dapat berkumpul membentuk lapisan (campuran terstabilitasi).
Sabun juga merupakan bahan zat pengemulsi. Dengan bekal pengalaman bertahun-tahun membuat sabun, para pembuat sabun mencoba membuat zat kimia pengemulsi yang dapat digunakan pada makanan, dan mereka berhasil.
Zat pengemulsi sintetik yang pertama dibuat adalah monogliserida yang dibuat dari lemak alam jenuh dan gliserol (gliserin), baru kemudian dikembangkan digliserida sebagai zat pengemulsi. Zat-zat kimia sintetik ini memberi sumbangan besar pada mekanisasi industri roti dan kue, serta pada produksi roti dan kue besar-besaran. Pengemulsi yang sering ditambahkan pada makanan yakni lesitin, monogliserida, digliserida, serta polisorbat 60 atau 80.

Pemantap dan Penebal Makanan

#
Pemantap mengikat padatan dan cairan menjadi satu dalam makanan, dan mencegahnya terpisah. Seringkali zat kimia bergabung dengan air untuk meningkatkan viskositas dan membentuk makanan seperti agar-agar (jelly).
Suatu zat penebal ditambahkan pada makanan untuk memberikan konsistensi yang tepat. Sebagian besar pemantap dan penebal yang dipergunakan merupakan ekstrak tanaman murni; beberapa merupakan produk alam yang telah diubah secara kimia; dan lebih sedikit lagi yang merupakan zat kimia sintetik. Contoh ekstrak tanaman antara lain kanji, getah tertentu yang diperoleh dari pohon, biji, serta berbagai ganggang laut.
Pemantap dipakai dalam susu coklat, bir, es krim, makanan penutup yang dibekukan, sarapan diet instan, keju, serta kue. Pemantap berfungsi mencegah coklat mengendap dalam susu coklat, memanjangkan ‘kepala’ segelas bir, menghentikan pembekuan sebagian air dalam es krim dan makanan penutup serta juga mencegah air terpisah dari es krim dalam bentuk kristal-kristal es.
Dalam campuran kue, gelatin, serta puding, pemantap mencegah hilangnya minyak pemberi rasa yang sangat mudah menguap, yakni molekul pemantap mengelilingi tetesan minyak mikroskopik dan mencegah menguapnya minyak tersebut. Salah satu pemantap yang paling banyak digunakan adalah carragreenan, yang diperoleh dari suatu spesies alga merah. Pemantap lainnya antara lain dekstrin dan natrium alginate.
Penebal menambahkan ‘badan’ pada berbagai makanan misalnya saus, gelatin, keju oles, bir, serta minuman ringan.


Thickener and Stabilizer and Their Functions

Additive
Function
Type of Food
agar
thickener
Ice cream, frozen custard, sherbet
gelatin
thickener
fruit gelatin, puddings, cream cheese, cheese foods
gum arabic
thickener,
stabilizer
Beer, soft drink, ice cream, imitation fruit juice
carragreenan
Stabilizer
Cottage cheese, chocolate milk, some syrups, evaporated milk, whipped cream
dextrin
Stabilizer
Beer, baked goods, gelatins
sodium carboxymethyl cellulose
Stabilizer
Ice cream, icing for cakes, cheese spreads, dietetic canned fruit


Saturday, January 21, 2017

Bahan Pengembang Makanan

#
Roti yang jumlahnya banyak sekali beredar di toko dan swalayan semuanya mengandung zat aditif. Jenis zat aditif yang ditemukan dalam makanan jenis ini adalah zat pengembang, yang merupakan bahan penting dalam produk roti. Zat pengembang adalah zat kimia yang bisa membentuk gelembung gas dalam adonan. Gelembung-gelembung gas ini mendorong adonan hingga naik, dan gelembung terperangkap dalam adonan. Ketika adonan mendingin, kehadiran gas yang terperangkap akan mencegah produk roti mengempis. Gelembung gas disimpan oleh adonan tepung yang lengket.
Tiga zat pengembang utama adalah udara, uap, dan karbon dioksida. Udara dapat masuk secara mekanik ke dalam makanan tertentu, juga ke dalam putih telur. Uap terbentuk saat adonan dipanaskan sampai suhu cukup tinggi untuk mengubah air menjadi uap.
Karbon dioksida merupakan pengembang yang paling umum, yang diperoleh dari reaksi ragi, bakteri, atau soda kue dengan air.
Adonan mengandung karbohidrat glukosa (C6H12O6), yang dapat dimakan oleh ragi sehingga menghasilkan etil alkohol dan karbon dioksida.
Etil alkohol memiliki titik didih rendah dan menguap selama proses pembakaran. CO2 menyebabkan adonan mengembang atau naik. Karena permintaan roti dan kue sangat tinggi, zat kimia pengembang telah menggantikan posisi ragi dalam produk komersial. Zat kimia tersebut adalah soda kue (baking powder), yang biasanya mengandung natrium bikarbonat atau soda kue (baking soda) NaHCO3, suatu ‘asam kering’, dan kanji. Bisa saja hanya menggunakan natrium bikarbonat, tetapi adonan akan memiliki bau dan rasa tak enak. Kanji menyerap sejumlah besar air dan membantu menjaga zat kimia pengembang tetap kering. Tergantung pada asam kering yang dipakai, terdapat baking powders yang bermacam-macam jenisnya.
Contoh asam kering yang digunakan adalah kalium hidrogen tartrat (KHC4H4O6), yang biasa disebut ‘krim tartar’ (cream of tartar). Ketika air ditambahkan pada baking powder yang mengandung krim tartar, terjadilah reaksi yang sangat cepat dan melepaskan banyak CO2.
Orang yang menggunakan baking powder ini harus bekerja sangat cepat. Sebaliknya, penggunaan asam-asam kering lainnya akan melepaskan CO2 lebih lambat ketika air ditambahkan. Ada juga tipe baking powder yang dikenal sebagai tipe ‘aksi ganda’ (double action) yang pada suhu ruang hanya membentuk CO2 sedikit saja atau tidak terbentuk sama sekali, tetapi ketika mencapai suhu oven maka gas banyak terbentuk.
Baking powder tipe aksi ganda ini memungkinkan dibuatnya adonan beku yang disimpan dalam freezer, dan dapat dipanggang dalam oven kapan saja.
Selama bertahun-tahun telah dikembangkan berbagai macam campuran komersial untuk kue, biskuit, muffin, roll, dan pancake, yang tidak mungkin dapat dilakukan bila baking powder tidak mengandung berbagai kombinasi zat kimia. 

Friday, January 20, 2017

Antioksidan Melindungi Minyak dan Lemak

#
Lemak dan minyak bereaksi dengan oksigen, yakni molekul O2 menyerang ikatan rangkap yang ada pada bagian asam lemak dari suatu lemak atau minyak, sehingga menghasilkan pembentukan hidroperoksida:

Hidroperoksida yang terbentuk dalam lemak atau minyak tidak berbau dan tidak berasa, namun begitu, hidroperoksida terurai dengan cepat dan membentuk aldehid yang memiliki bau dan rasa yang kuat dan merangsang:

Totalnya, oksidasi lemak dan minyak berakhir dengan pembentukan senyawa yang memiliki bau dan rasa tak enak, bahkan sebagian hasil oksidasi dipercaya memiliki beberapa derajat toksisitas. Untuk mencegah suatu lemak bereaksi dengan O2, maka O2 dihalangi atau ditambahkan suatu antioksidan pada lemak. Antioksidan dapat berupa suatu zat kimia atau campuran zat-zat kimia yang bereaksi terlebih dahulu dengan O2, sehingga mencegah lemak bereaksi dengan O2. Senyawa yang dihasilkan dari reaksi antara antioksidan dengan O2 tidak memiliki bau atau rasa tengik.
Beberapa makanan mengandung antioksidan alami seperti vitamin E, lesitin, dan asam askorbat (vitamin C). asam askorbat ditemukan dalam sari buah lemon, limau, serta nanas yang seringkali ditambahkan pada makanan yang mengandung lemak atau minyak, misalnya pada margarin dengan tujuan untuk melindungi minyak dalam margarin dari oksigen.
Asam-asam lain yang dipakai sebagai antioksidan adalah asam fosfat (H3PO4) dan asam sitrat (C6H8O7). Dua macam antioksidan yang paling dikenal adalah BHA (butylated hydroxyanisole) yang dikembangkan di akhir 1940-an, dan BHT (butylated hydroxytoluene) yang dikembangkan tahun 1954.

BHT dan BHA digunakan dalam minyak goreng, keripik kentang, kacang asin, margarin, dan sereal kemasan. Sama seperti antioksidan lain, kedua zat kimia ini bereaksi cepat dengan oksigen sehingga mencegah molekul O2 bereaksi dengan makanan.

Sejak tahun 1958, ilmuwan dari Food and Drug Administration terus-menerus menguji BHT dan BHA untuk memastikan bahwa kedua zat kimia tersebut aman, dan sampai saat ini uji toksikologi terhadap tikus belum menunjukkan adanya efek berbahaya. 

Minyak dan Lemak dapat tengik karena oksidasi

#
Jika molekul oksigen bereaksi dengan zat kimia tertentu dalam makanan atau istilah kimianya mengalami oksidasi, makanan tersebut bisa mengalami perubahan warna, dapat juga menjadi tengik, serta kehilangan rasa. Kelompok besar zat kimia yang mudah diserang oksigen adalah lemak dan minyak.
Lemak dan minyak merupakan salah satu dari tiga kelompok utama material makanan (yang lain adalah protein dan karbohidrat). Lemak dan minyak dapat diperoleh dari sayuran, hewan, atau sumber laut. Contoh lemak dan minyak antara lain lemak padat seperti mentega kokoa; minyak seperti jagung, kedelai, kacang tanah, dan minyak zaitun; lemak babi, lemak sapi, dan lemak mentega dari susu; serta minyak ikan. Pada saat jaringan lemak dari binatang dipanaskan, lemak dibebaskan.
Menekan atau memeras buah zaitun, biji wijen, dan jagung akan mengeluarkan minyak. Lemak dan minyak yang bisa dimakan merupakan ester dari alkohol gliserin dan berbagai asam berantai lurus panjang yang dikenal sebagai asam lemak. Bila ester yang dapat dimakan tersebut berwujud padat pada suhu ruang maka disebut lemak, sedangkan bila cair maka disebut minyak.
Asam lemak dari lemak dan minyak alami memiliki 4 sampai 24 atom karbon dan jumlah atom karbon adalah genap dengan sedikit sekali kekecualian (sedikit yang memiliki atom karbon berjumlah ganjil). Asam lemak rantai pendek merupakan lemak yang lebih lembut dengan titik leleh lebih rendah daripada asam lemak rantai panjang.
Asam lemak dapat bersifat jenuh atau tak jenuh. Semakin besar derajat ketidakjenuhan asam lemak, semakin lembut pula lemak tersebut dan semakin rendah titik lelehnya. Jika ketidakjenuhannya sangat tinggi, senyawa tersebut akan berwujud cair pada suhu ruang.


Struktur Kimia Beberapa Asam Lemak

Contoh Beberapa Asam Lemak Jenuh dan Tak Jenuh

Common Name
Number of Carbon Atoms
Molecular Formula
Typical Source
butyric acid
lauric acid
palmitic acid
lignoceric acid
oleic acid
linolenic acid
gadoleic acid
4
12
16
24
18
18
20
CH3CH2CH2COOH
CH3(CH2)10COOH
CH3(CH2)14COOH
CH3(CH2)22COOH
CH3(CH2)7CH=CH(CH2)7COOH
CH3(CH2CH=CH)3(CH2)7COOH
CH3(CH2)9CH=CH(CH2)7COOH
butter fat
coconut oil
most fat and oil
peanut oil
most fat and oil
soybeans
fish oil

Seperti diketahui, ester terbentuk ketika suatu alkohol bereaksi dengan asam, sedangkan lemak atau minyak terbentuk ketika alkohol gliserin bereaksi dengan asam lemak, dengan air sebagai produk samping dari reaksi tersebut.



Gliserin memiliki tiga gugus OH yang dapat disubstitusi. Di alam, ketiga gugus OH tersebut bisa digantikan oleh asam lemak yang sama, atau oleh dua atau tiga macam asam lemak berbeda, sehingga menghasilkan bermacam-macam lemak dan minyak yang memiliki kekerasan molekul bervariasi.
Seluruh zat pada berupa cairan (minyak), tapi sebenarnya bisa saja mengandung sedikit molekul lemak pada tersuspensi. Dalam sebagian lemak alami, hanya satu atau dua gugus OH yang bereaksi dengan asam lemak. Molekul dengan hanya satu gugus OH yang bereaksi disebut monogliserida, dan bila dua gugus OH yang bereaksi maka disebut digliserida, sedangkan trigliserida  adalah bila ketiga gugus OH mengalami reaksi. Contoh berikut adalah pembentukan lemak gliserol stearat:

Pembentukan lemak dari reaksi antara gliserin dengan
asam lemak lainnya

Bahan Pewarna Makanan

#
Kita biasa memperhatikan warna makanan yang akan kita makan, karena kita tidak ingin ada warna lain dari makanan tersebut. Seringkali warna makanan alami tidak menarik atau memang makanan tersebut tidak berwarna.
Dalam usaha membuat makanan lebih menarik untuk dijual pada konsumen, para pembuatnya mungkin saja menambahkan pewarna makanan pada produknya. Warna dari makanan dapat terjadi secara alami atau dapat juga ditambahkan pewarna buatan.
Terdapat banyak pigmen alami, misalnya klorofil yang memberikan warna hijau pada selada dan kacang polong, karoten yang memberi warna jingga pada wortel dan jagung, lycopene memberi warna merah pada tomat dan semangka, serta oksimioglobin yang memberi warna merah pada daging. Semua pigmen alami ini dapat berubah karena bereaksi dengan oksigen yang terjadi selama proses pematangan buah dan daging.
Panas yang berlebihan, bahkan proses mencincang dan menggiling makanan, juga mengubah warna alami makanan dengan merusak sel dan membocorkan pigmen keluar sehingga bereaksi dengan molekul O2. Salah satu metoda mewarnai makanan secara buatan adalah menambahkan pewarna sayur-sayuran.
Pewarna alami antara lain karamel, bit hasil dehidrasi, minyak wortel, karoten, paprika, kunyit, serta riboflavin. Kebanyakan pewarna ini diekstrak dari bunga atau daun tumbuh-tumbuhan. Kelompok pewarna terbesar adalah zat organik sintetik, yakni sekitar 90% dari seluruh pewarna yang dipakai dalam makanan.
Pada tahun 1856 diproduksi pewarna buatan pertama, dan sejak saat itu beberapa ribu pewarna telah dibuat dalam laboratorium. Meskipun banyak sekali pewarna yang dipakai dalam tekstil, cat, dan produk lain, namun hanya sedikit saja yang diizinkan untuk dipakai dalam makanan.
Hampir semua warna dihasilkan dari zat kimia yang ditemukan dalam minyak. Zat-zat kimia berwarna ditambahkan pada soda, keju, mentega, margarin, es krim, campuran bolu, sereal, permen, sosis, dan ratusan produk lain.
Zat kimia yang ditambahkan memiliki kekuatan pewarnaan, warna yang seragam, dan stabilitas yang membuat makanan lebih menarik. Selain itu, ketertarikan konsumen pada kehadiran warna tersebut membuat konsumen membeli lebih banyak lagi, misalnya karena warna yang ditambahkan pada soda membuat minuman tersebut tampak lebih kaya akan rasa buah. Kapanpun pewarna ditambahkan pada produk makanan, dalam label harus dicantumkan apakah produk tersebut menggunakan pewarna buatan yang diizinkan, atau pewarna yang berasal dari sayuran dan warna alami.
Penggunaan pewarna dalam makanan diatur untuk menjaga keamanan zat kimia yang dipakai atau mencegah penipuan konsumen, dan pewarna dicantumkan pada label. Dahulu, sejumlah pewarna pada makanan, obat, dan kosmetik sangat tidak aman.
Pada abad ke-19, permen bisa diwarnai oleh pigmen dari timbal, arsen, tembaga, dan kromium, yang mengakibatkan sakit dan bahkan kematian orang yang makanannya dalam jumlah besar. Tahun 1950-an ditemukan bahwa beberapa zat kimia pewarna makanan yang telah diizinkan ternyata beracun, kemudian semua pewarna yang diizinkan untuk makanan, obat, dan kosmetik, diuji kembali untuk melihat apakah ada efek negatif. Selanjutnya, tidak ada lagi pewarna yang boleh dipakai bila ditujukan untuk menutupi noda atau cacat, menyembunyikan kekurangan, atau menipu konsumen.
Misalnya kunyit, yang dahulu digunakan untuk memberi warna telur pada kue, tak dapat lagi dipakai sebagai zat pewarna untuk tujuan penjualan yakni membuat pembeli mengira produk tersebut kaya akan telur. Selama bertahun-tahun, pengujian zat-zat kimia pewarna menghasilkan penemuan sejumlah zat beracun. Sejak saat itu, warna hitam karbon (carbon black) dan beberapa pewarna lain tidak lagi diizinkan untuk makanan.

Beberapa pewarna makanan buatan yang diizinkan



Thursday, January 19, 2017

Penambah Rasa MSG (Monosodium Glutamat)

#
Penting untuk diperhatikan, bahwa vetsin atau micin atau nama kimianya monosodium glutamat (MSG) bukanlah zat perasa, tapi merupakan ‘penguat rasa’. MSG dibuat dari berbagai sumber protein sayuran seperti kedelai, gandum, ragi, atau jagung. Berlawanan dengan kepercayaan yang beredar, MSG bukanlah pengawet ataupun pelembut. MSG hanyalah memberatkan dan mengintesifkan rasa alami dari makanan, tapi tidak memiliki aroma sendiri dan tidak menambah rasa khusus. MSG ‘mengeluarkan’ rasa dari makanan. Struktur molekul senyawa organik alami ini adalah:


monosodium glutamat (MSG)


Saat ini tidak ada penjelasan ilmiah bagaimana MSG bekerja, namun diketahui bahwa MSG mempunyai kemampuan unik untuk meningkatkan salivasi. Semakin banyak saliva terdapat dalam mulut, semakin besar kesempatan untuk merasakan zat-zat kimia pemberi aroma pada saat makanan dimakan.
Bagi sebagian orang, MSG dapat menyebabkan sakit kepala, sakit bagian dada, dan napas pendek. Penelitian yang dilakukan menunjukkan hasil bahwa tak ada bukti adanya bahaya dalam pemakaian MSG dalam makanan bagi anak-anak dan dewasa kecuali bagi mereka yang sensitif pada zat tersebut. Meski begitu, karena MSG tidak memiliki nilai gizi, kemudian MSG dihilangkan dari makanan bayi. Bila monosodium glutamat ditambahkan pada produk makanan, hal ini harus dicantumkan pada label produk tersebut.

Bahan Penambah Rasa Buatan

#
Dengan menggunakan metoda analisis yang paling modern, para ahli kimia telah dapat menentukan banyak senyawa yang terdapat dalam perasa alami seperti mint, brandy, kayu manis, vanila, dan persik. Selanjutnya, ahli kimia dapat mensintesis sebagian dari bahan kimia tersebut, yang dapat dikategorikan berdasarkan tingkat kenikmatan dari bau dan rasanya.
Dengan informasi tersebut, ahli kimia bahan perasa menyusun campuran berbagai zat kimia dalam porsi yang sesuai untuk menghasilkan rasa yang diinginkan. Ini adalah tugas ahli kimia bahan perasa untuk membuat suatu rasa yang hampir menyamai aroma dan rasa dari bahan perasa alami. Perkembangan perasa buatan tergantung pada ingatan seorang ahli bahan perasa, yang harus mengingat setiap aroma dan rasa yang melewati hidung dan mulutnya.
Berdasarkan ingatan, mereka harus mengetahui bahan apa yang dipilih dan bagaimana mencampur zat kimia tersebut menjadi rasa yang cocok yang menyamai rasa alami yang diinginkan. Pembuatan rasa imitasi yang sukses lebih merupakan suatu seni daripada proses saintifik. Seringkali suatu rasa imitasi tidak bisa dicampur dengan porsi seimbang untuk menyamai rasa alami, sehingga penambahan 5% - 25% perasa alami menambahkan ‘kealamian’ dari perasa buatan serta menguatkan aroma dan rasanya.



Tidak ada alasan ilmiah bagi jumlah relatif zat-zat kimia di atas, namun bila dicampur dengan benar maka rasa buatan yang baik bisa diperoleh. Penggunaan zat perasa dalam skala besar berkaitan dengan meningkatnya variasi makanan yang tersedia, serta kebutuhan untuk mengembalikan rasa yang hilang sebagian selama proses pemanasan, pengolahan, dan proses lainnya.